Roma Belajar Lebih Banyak dari MU ketimbang saat Lawan Real Madrid

AS Roma dua kali kena comeback di Liga Champions musim ini, saat lawan Real Madrid lalu dari Manchester United. Tapi bagi Roma, kesannya berbeda.

Rifqi Ardita Widianto - detikSepakbola

... Tautan telah disalin
Foto: Jason Cairnduff/Action Images via Reuters
Jakarta -

AS Roma dua kali kena comeback di Liga Champions musim ini, saat lawan Real Madrid lalu dari Manchester United. Tapi bagi Roma, kesannya berbeda.

Dari empat pertandingan Liga Champions sejauh ini, Roma sekali menang, sekali seri, dan dua kali kalah. Keduanya kena comeback lawan.

Saat menghadapi Madrid tengah Oktober lalu, mereka dua kali unggul sampai tiga gol lawan di tujuh menit terakhir bikin buyar. Roma kalah 3-4 di Olimpico.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu di markas Manchester United, Rabu (4/11/2026) dini hari WIB tadi, Roma unggul cepat berkat gol Matias Soule dan penalti Donyell Malen dalam 17 menit awal. Tapi tiga gol MU di babak kedua bikin tim berjuluk Serigala itu gagal dapat mangsa.

Kecerobohan dan kesalahan Roma tak bisa dipisahkan dari hasil ini. Pelanggaran Gianluca Mancini berujung penalti dan luputnya Daniele Ghilardi menendang bola jadi gol penyama.

Pelatih Roma Gian Piero Gasperini lebih menyoroti kegagalan timnya menghadapi peningkatan intensitas dan tempo tuan rumah. Itu sudah terasa setelah gol penalti Bruno Fernandes dan Roma punya cukup waktu untuk bertindak.

"Ini pertandingan yang rasanya berbeda dari saat lawan Real Madrid, ketika semua gol terjadi di 7-8 menit terakhir dari korner, dan tidak ada tanda-tanda serius akan sebuah comeback," kata Gasperini.

"Kali ini, terutama setelah penalti, Manchester United tiba-tiba mendapatkan lonjakan antusiasme dan kami tak mampu mengatasinya. Sejujurnya, kami belajar lebih banyak dari laga ini saat lawan Real Madrid."

"Laga lawan Real Madrid terasa tak terprediksi, sementara hari ini terutama saat Old Trafford mendorong tim lawan, kami perlu menangani situasi semacam ini lebih baik ke depannya," tambahnya dikutip Sky Sport Italia.

Melawan Madrid, Roma relatif lebih lama mendominasi lawan. Tapi kecemerlangan individu lawan menjadi pembeda.

Melawan MU, Gasperini melihat timnya sebenarnya bisa merasakan lawan membangun momentum dan itu seharusnya bisa diredam. Misalnya dengan merusak ritme lewat pelanggaran-pelanggaran taktis dan menunda setiap restart permainan.

"Masalahnya adalah kami tidak lagi mampu mengikuti titik acuan mereka, sehingga mereka lebih unggul dalam melakukan tekanan -yang membuat kami tidak bisa mengembangkan permainan- serta dalam membangun serangan," sambung pelatih gaek ini.

"Hal itu memicu masalah bagi kami; seharusnya kami mencoba sedikit lebih sering memutus ritme permainan mereka melalui duel-duel tambahan dan memperlambat tempo pertandingan."

https://sport.detik.com/sepakbola/uefa/d-8738969/roma-belajar-lebih-banyak-dari-mu-ketimbang-saat-lawan-real-madrid