- 100KPJ
- Intipseleb
- Sahijab
- popgames
- banyuwangi
- purwasuka
- gadget
- wisata
- padang
- TECHNO
- siap
- bogor
- banten
- banyumas
- NTT
- cianjur
- Jakarta
- jateng
- teknodaily
- jatim
- medan
- MADURA
- jogja
- lampung
- bali
- sulawesi
- Parenting
- semarang
- malang
- TANGERANG
- KALTIM
- Soccer
- mindset
- ceritakita
- gorontalo
- olret
- 100KPJ
- Intipseleb
- Sahijab
- popgames
- banyuwangi
- purwasuka
- gadget
- wisata
- padang
- TECHNO
- siap
- bogor
- banten
- banyumas
- NTT
- cianjur
- Jakarta
- jateng
- teknodaily
- jatim
- medan
- MADURA
- jogja
- lampung
- bali
- sulawesi
- Parenting
- semarang
- malang
- TANGERANG
- KALTIM
- Soccer
- mindset
- ceritakita
- gorontalo
- olret
- Instagram/rizkyridhoramadhani
Jakarta, VIVA – Timnas Indonesia bersiap menghadapi ujian berat sekaligus bersejarah saat bertemu Timnas Bulgaria di partai final FIFA Series 2026, Senin 30 Maret 2026 malam WIB. Pertandingan ini bukan sekadar memperebutkan trofi, tapi juga momentum bagi Garuda untuk memutus catatan buruk dalam sejarah pertemuan melawan The Lions.
Berdasarkan rekor head-to-head, Indonesia baru dua kali berjumpa Bulgaria. Sayangnya, skuad Garuda belum pernah meraih kemenangan, bahkan belum mampu mencetak satu gol pun.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Catatan Pertemuan Indonesia vs Bulgaria:
Pada pertemuan pertama di 1959, Indonesia mampu menahan imbang Bulgaria tanpa gol. Namun pada 1973, tim Eropa Timur itu menunjukkan dominasinya dengan melumat Indonesia empat gol tanpa balas.
Kondisi saat ini jelas berbeda. Timnas Indonesia kini diperkuat talenta muda menjanjikan seperti Beckham Putra yang sedang dalam performa impresif, ditambah pemain keturunan berkualitas seperti Ole Romeny dan Mauro Zijlstra. Sementara itu, Bulgaria datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah menekuk Kepulauan Salomon 10-2 di semifinal.
Ranking FIFA mereka pun unggul: per Senin 30 Maret 2026, Bulgaria berada di posisi 87 dengan 1275,09 poin, sedangkan Indonesia di posisi 121 dengan 1148,70 poin.
Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, menekankan bahwa final ini menuntut strategi matang dan disiplin tinggi. Dengan waktu persiapan yang singkat, Herdman menyadari timnya belum berada dalam kondisi ideal, tapi ia menegaskan tekad untuk menang.
“Kami hanya punya waktu dua hari. Para pemain datang terlambat, berada di siklus tidur yang berbeda, dan kami hanya menjalani dua sesi latihan bersama. Ini langkah kecil, tapi juga langkah besar untuk bisa disiplin menghadapi tim seperti Bulgaria. Kami harus menemukan cara untuk menang,” kata Herdman, dikutip Antara.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Herdman menyoroti kekuatan utama Bulgaria, terutama pemain sayap yang bisa membangun permainan melalui kombinasi segitiga. “Jika mereka menemukan ritme, itu bisa sangat menyulitkan kami. Jadi kami harus menghentikan ritme dan kombinasi mereka di sisi lapangan,” ujarnya.
Selain itu, Herdman menekankan perbedaan fisik dan organisasi permainan. “Mereka lebih besar secara fisik, lebih kuat, sangat terorganisir, dan transisinya jauh lebih rapi serta cepat. Karena itu, kami harus memulai pertandingan dengan lebih baik dibanding laga sebelumnya,” tambahnya. Herdman menekankan pentingnya 10–15 menit awal pertandingan sebagai fase krusial.
https://www.viva.co.id/bola/1888752-ranking-di-bawah-bulgaria-timnas-indonesia-belum-pernah-menang-1-kali-kalah-1-kali-seri
Comments
0 comment